Arief20’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pendidikan Pesantren Desember 18, 2008

Filed under: Uncategorized — arief20 @ 7:06 am

1. Pendahuluan

Minimnya data tentang pesantren, baik berupa manuskrip-manuskrip atau peninggalan sejarah lainnya menjadikan informasi tentang pesantren masih terbatas. Kedudukan dan peran pesantren masih kurang tersebar luas di masyarakat. Padahal pesantren merupakan lembaga tradisional pendidikan asli Indonesia[1]. Selain itu, sejak lahirnya yaitu pada abad 16, pesantren telah mampu bertahan dan berkembang karena sikap kemandirian dan lentur dalam menghadapi perubahan. Bahkan dalam sejarahnya pesantren telah mengarungi banyak tantangan, mulai dari penjajah hingga gerusan perubahan zaman ini.

Eksistensi pesantren terus berlanjut dari masa ke masa. Pada era penjajahan, banyak kyai yang memimpin perjuangan nasional. Di era kemerdekaan, pesantren melahirkan tokoh-tokoh terdepan perjuangan kemerdekaan, dan di era mutakhir pesantren tidak pernah absen dalam kehidupan bangsa dan bernegara. Jika dirunut, tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari (era penjajahan), Wahid Hasyim (kemerdekaan), Saifuddin Zuhri, Abdurrahman Wahid dan Hasyim Muzadi (sekarang) adalah diantara tokoh-tokoh bangsa yang dimiliki oleh Negeri ini, dan dibesarkan dari pesantren.

Hanya saja, eksistensi seperti ini tidak cukup menjadikan pesantren sebagai tonggak utama bagi kemajuan bangsa. Di sinilah pentingnya membicarakan ”Pesantren dan Tantangan Era globalisasi”. Sebagaimana diketahui globalisasi menuntut terjadinya perubahan di segala aspek kehidupan termasuk perubahan orientasi, persepsi, dan tingakt selektifitas masyarakat Indonesia terhadap pendidikan. Apabila semasa orde baru pembangunan lebih diarahkan pada pemerataan pendidikan yang berakibat tidak imbang antara kuantitas dan kualitas, maka globalisasi memaksa Indonesia untuk merubah orientasi pendidikannya menuju pendidikan yang berorientasikan kulitas, kompetensi dan skill. Artinya yang terpenting ke depan bukan lagi memberantas buta huruf. Lebih dari itu, membekali manusia terdidik agar dapat ikut berpartisipasi dalam persaingan global juga harus dikedepankan. Berkenaan dengan ini, standard mutu yang berkembang di masyarakat adalah tingkat keberhasilan lulusan sebuah lembaga pendidikan dalam mengikuti kompetensi pasar global.

Dalam kondisi demikian, pesantren diharapkan mampu memecahkan beberapa tantangan zaman, yang mengarah pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta informasi. Yang perlu dicatat, pesantren harus mempertahankan khazanah luhur pesantren, khususnya tradisi keilmuan dan budaya yang dikembangkan di pesantren. Sebenarnya sistem pembelajaran seperti halaqahan, bahstul masail dan musyawarah adalah tradisi keilmuan yang bagus. Di samping itu, sampai saat ini pesantren dikenal sebagai bengkel moral yang memiliki andil besar dalam mempertahankan budaya luhur masyarakat Indonesia.

Kemudian, untuk memacu perkembangan pesantren, setidaknya ada lima elemen pesantren yang menjadi titik tolaknya. Kyai, santri, pondok, masjid dan kitab kuning merupakan lima pilar yang menjadi ruh pesantren. Baik buruknya dan maju mundurnya pesantren tergantung pada lima hal pokok tersebut. Dari kelima hal pokok itulah pesantren dibangun untuk menuju pada keberdayaan pesantren dalam menuju masyarakat sipil di Indonesia.

2. Sekilas Tentang Pesantren

2. 1. Munculnya Pesantren di Indonesia

Menurut Alwi Shihab, Syaikh Maulana Malik Ibrahim merupakan orang pertama yang membangun pesantren sebagai tempat mendidik dan menggembleng para santri. Tujuannya agar para santri menjadi juru dakwah yang mahir sebelum mereka diterjunkan langsung di masyarakat luas.[2]Usaha Syaikh menemukan momentum seiring dengan mulai runtuhnya singgasana kekuasaan Majapahit (1293-1478 M). Islam pun berkembang demikian pesat, khususnya di daerah-daerah pesisir yang kebetulan menjadi pusat-pusat perdagangan antar daerah, bahkan antar negara.

Bahkan, dari hasil penelusuran sejarah pula, ditemukan sejumlah bukti kuat yang menunjukkan bahwa cikal bakal pendirian pesantren terdapat di daerah sepanjang pantai utara Jawa, seperti Gresik, Ampel, Bonang, Kudus, Lasem, Cirebon dan sebagainya (Soebardi,1978). Kota-kota tersebut pada waktu itu merupakan kota kosmopolitan yang menjadi jalur penghubung perdagangan dunia, sekaligus sebagai tempat persinggahan para pedagang dan mubaligh Islam yang datang dari Jazirah Arab seperti Hadramaut, Persia, Irak, dan lain sebagainya.[3]

Dalam perkembangan selanjutnya, memudarnya pengaruh kerajaan islam Demak karena konflik internal dan keberhasilan bangsa-bangsa Eropa (Portugis dan Belanda) dalam mengambil alih pusat-pusat perdagangan jalur pantai utara telah memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap corak keberislaman masyarakat ketika itu. Pasalnya, umat Islam terpaksa bergerak masuk ke daerah-daerah pedalaman. Di daerah pedalaman tersebut, para guru agama dan kyai yang dulunya mengajar di kota-kota perdagangan wilayah pantura membangun padepokan baru sebagai pusat pengajian para santri dalam menyiarkan Islam ke seluruh pelosok Negeri.[4]

2.1. Pola Pendidikan Pesantren

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional, pesantren mempunyai empat ciri khusus yang menonjol. Mulai dari hanya memberikan pelajaran agama versi-versi kitab Islam klasik berbahasa Arab, mempunyai teknik pengajaran unik yang biasa dikenal dengan metode sorogan dan bandongan atau wetonan, mengedepankan hafalan, serta menggunakan sistem halaqah.[5]

Halaqah berhasil dikembangkam dengan baik oleh KH Mustain Romli (Jombang), sehingga menjadi sebuah metode penyajian bahan pelajaran yang mampu menanamkan dan mengembangkan kreatifitas, sikap kritis, logis dan analitis secara sekaligus, serta mendorong mereka agar kompetitif. Hal ini mengingat metodologi halaqah menempatkan kyai hanya sebagai “moderator”.[6]

Selain metode-metode di atas, dalam dunia pesantren juga dikenal beberapa metodologi pengajaran seperti hafalan (tahfidz), hiwar atau musyawarah,[7] bahtsul masail[8] dan lain-lain.

3. Pesantren dan Tantangan Era Global

Pada awal perkembangannya dan bahkan hingga awal era 70-an, pesantren pada umumnya dipahami sebagai lembaga pendidikan agama yang bersifsat tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan melalui suatu proses sosial yang unik. Saat itu, bahkan hingga sekarang, selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berperan sebagai lembaga sosial yang berpengaruh. Keberadaannya memberikan pengaruh keberagamaan dalam kehidupan masyarakat sekitarnya, tidak hanya di wilayah pedesaan, tetapi tidak jarang melewati daerah kabupaten di mana pesantren itu berada. Oleh karena itu pesantren diharapkan dapat berperan sebagai penggerak pembangunan di semua bidang, serta pengemban ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyongsong era global, dan di sinilah perubahan merambah ke dalam dunia pesantren.

Telah disinggung di muka bahwa globalisasi menuntut perubahan di segala aspek kehidupan. Begitu juga pesantren. Pertanyaannya apa yang harus dilakukan pesantren agar dapat mengoptimalisasikan peran kelembagaannya di era globalisasi sebagai agen pemberdayaan masyarakat yang berpengetahuan, berteknologi, dan berkompetensi tinggi?

3.1. Upaya Inklusif Pesantren

Untuk menganalisa apa yang harus dilakukan pesantren di era global, sebelumnya harus dipahami bahwa pesantren memiliki akar sosio-historis yang kuat sehingga membuatnya mampu menduduki posisi relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya, dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan. Sebagaimana diketahui, selama ini pesantren berperan sebagai “culture counter”. Sebagai culture counter, semestinya pesantren terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan sifat dan ciri khas budaya yang bersifat dinamis dan tidak statis. Meski tidak melampaui, setidaknya pesantren mampu menciptakan kader-kader yang mampu mengikuti perkembangan zaman yang terus mengarah kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebetulnya telah dilakukan upaya-upaya perubahan dan pengembangan itu, namun belum berhasil secara optimal. Hal ini setidaknya disebabkan oleh dua kondisi. Pertama, masih terdapat ambivalensi orientasi pendidikan karena masih terdapat anggapan bahwa hal-hal yang terkaitdengan soal kemasyarakatan atau keduniawian (muamalah), seperti penguasaan berbagai disiplin ilmu umum (sains), keterampilan dan profesi sekolah semata-mata merupakan garapan khusus sistem pendidikan sekuler. Kedua, adanya pemahaman parsial atau dikotomis yang memisahkan antara ilmu agama dan sains.[9]

Kedua permasalahan ini memang sangat klasik dan terkesan usang. Tetapi diakui atau tidak, realitas ini sangat mengganggu keberlangsungan pesantren ke depan. Ditambah dengan masih banyaknya masalah yang sifatnya teknis, mulai dari kurangnya infrastruktur yang “bernyawa” hingga yang ‘tak bernyawa”. Bagaimana tidak, untuk kelengkapan analisis tidak ditemukan perpustakaan yang memadai dan atau untuk penilitian yang intensif, tidak ditemukan fasilitas laboratorium yang memadai pula. Dalam konteks ini secara garisa besar permasalahan pesantren bisa dikelompokkan ke dalam empat hal,[10] yaitu: pertama, kurikulum pendidikan yang mencakup literatur, model pembelajaran dan pengembangannya; kedua, sarana dan prasarana seperti perpustakaan, laboratorium, internet, lapangan olahraga dan lainnya; ketiga, wahana pengembangan diri seperti organisasi, majalah seminar dan lain sebagainya; dan yang keempat, wahana aktualisasi diri di tengah-tengah masyarakat, seperti tabligh, khatib dan lainnya.

Sejalan dengan itu, mengembalikan pesantren kepada fungsi pokoknya yang sebenarnya juga harus segera diwujudkan. Sebagaiman diketahui, setidaknya terdapat tiga fungsi pokok pesantren: pertama, transmisi ilmu pengetahuan Islam (transmission of Islam knowledge). Pengetahuan Islam yang dimaksud tentunya tidak hanya meliputi pengetahuan agama, tetapi juga mencakup seluruh pengetahuan yang ada; kedua, pemeliharaan tradisi Islam (maintenance of Islanm); dan ketiga, pembinaan calon-calon ulama (reeproduction of ulama).

3. 2. Upaya Eksklusif Dengan Memperluas Jaringan

Hampir bisa dipastikan bahwa jaringan (network) merupakan elemen penting dalam sebuah institusi atau lembaga untuk terus berkiprah. Kerja sama merupakan keharusan yang tidak tidak boleh tidak dilakukan. Tanpa adanya jaringan kerja sama yang kuat, maka kehadiran sebuah lembaga atau insitusi semisal pesantren kurang begitu berlangsung efektif.

3. 2. 1. Kerja Sama Antar Pesantren

Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan pesantren adalah membangun jaringan kerja sama kelembagaan dengan pesantren lainnya. Kerja sama itu bisa diwujudkan dengan pertukaran santri atau pertukaran guru di masing-masing pesantren yang berbeda. Hal ini baik dilakukan karena sebagaimana diketahui masing-masing pesantren memiliki keunikan dan konsentrasi ilmu yang berbeda.

3. 2. 2. Kerja Sama Dengan Pemerintah

Pada mulanya, pesantren merupakan lembaga eksklusif dengan komunitas yang eksklusif pula. Dalam perjalanan sejarahnya pesantren dituntut untuk terus berbenah dan membuka diri dalam mengawal perubahan. Keterbukaan pesantren untuk menerima kebijakan pemerintah melalui Departemen Agama misalnya merupakan kemajuan dan sekaligus merupakan wujud keterbukaan pesantren akan desakan realitas di luarnya. Departemen Agama menjadikan direktorat khusus yang menangani masalah pesantren, yaitu Direktorat Pendidikan Agama dan Pondok Pesantren. Direktorat inilah yang kemudian menjadi mitra kerja pondok pesantren dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas akademik pesantren.

3. 2. 3. Kerja Sama Internasional

Kerja sama ini bisa diwujudkan dengan “penyesuaian” status (mu’adalah) dari lembaga-lembaga keilmuan semisal Mesir, Saudi Arabia dan semacamnya, juga bisa berbentuk kerja sama dalam pertukaran santri di berbagai lembaga pendidikan di luar negeri atau juga asistensi peningkatan mutu lembaga pendidikan pesantren.

4. Penutup

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisonal asli indonesia. Peran pesantren sangat besar mulai dari awal berdirinya, pra kemerdekaan, pasca merdeka hingga sekarang. Banyak sekali tokoh-tokoh ternama di Indonesia yang lahir dari pendidikan pondok pesantren. Hal ini bisa menjadi acuan bahwa pesantren dengan sistemnya yang tradisional tetap eksis, walaupun banyak menemui hambatan.

Sejalan dengan perkembangan zaman, pesantren dituntut mampu menjawab tantangan-tantangan baru. Baik dalam bidang keilmuan maupun teknologi. Pengadaan kurikulum yang terukur dan wahana pengebangan potensi diri sangat dibutuhkan agar lulusan pesantren terampil dalam mengaplikasikan penguasaan ilmunya, di samping pemanfaatan teknologi juga perlu digalakkan, agar para santri tidak gagap teknologi dan tidak ketinggalan zaman.

Selain itu, pesantren bisa melebarkan sayap melalui kerja sama dengan membentuk jaringan, baik dengan sesama pesantren, pemerintah melalui Departemen Agama atau lembaga internasional sekalipun. Jaringan perlu dibentuk untuk meningkatkan kualitas santri dalam penguasaan ilmu dan sebagai jaminan eksistensi pesantren.

Hal ini sejalan dengan kaidah yang sangat diilhami oleh dunia pesantren, “almuhafadlotu ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslakh “ (melestarikan tradisi lama yang bagus dan mengambil hal baru yang lebih bagus). Namun demikian, tiga hal di atas akan percuma, bila pesantren kehilangan jati dirinya. Sebagaimana diketahui pesantren mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu sebagai tranmisi ilmu keislaman, pemelihara tradisi Islam dan pembinaan calon ulama.

DAFTAR PUSTAKA

Zamakhsari, Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Kyai. Jakarta: LP3ES. 1982

Madjid, Nurcholis. Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina. 1997


[1] Hal ini berdasarkan kesepakatan beberapa peneliti baik dari dalam maupun luar negeri, pada umumnya hasil penelitian itu dipublikasikan dalam bentuk buku diantaranya:Tradisi Pesantren:Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Zamakhsyari Ddofier), Pesantren ,Madrasah, Sekolah (Karel Steenbrink), Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Nur Cholis Madjid), dan lain sebagainya.

[2] Alwi Shihab, 2002, Islam Inklusif,Cet. I, Bandung: Mizan, hal. 23.

[3] Fatah syukur, 2002, Dinamika Pesntren dan Madrasah, Cet. I, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 248.

[4] Azyumardi Azra, 2002,Islam Nusantara,Bandung: Mizan, hal. 19

[5] Sebenarnya halaqah merupakan sebutan bagi situasi dan kondisi selama berlangsungnya metode pengajaran bandongan di mana sekelompok santri berkumpul untuk belajar di bawah bimbingan seorang kyai.

[6] Mahmud Yunus, 1994, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta : INIS, hal. 61

[7] Dalam prakteknya, santri melakukan kegiatan belajar secara kelompok untuk membahas materi yang sudah diajarkan oleh seorang kyai atau ustadz.

[8] Pertemuan ilmiah untuk membahas masalah diniyah. Bedanya dengan musyawarah, bahtsul masail diikuti oleh kyai atau santri tingkat tinggi.

[9] Respon terhadap dua permasalahan inilah yang kemudian menjadi dasar klasifikasi pesantren menjadi tiga bentuk, yaitu: pertama, pesantren klasik dengan penguasaan medernitas yang sangat minim; kedua, pesantren modern yang tidak mampu melakukan terobosan signifikan karena terputus dengan khazanah keilmuannya sendir; dan ketiga, pesantren yang berusaha menggabungkan tradisionalisme dan modernisme melalui jargon al-muhafadlatu ‘ala al-qadim as-shalih wa al-ahdzu bi aljadid al-aslah (memelihara tradidi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

[10] Jamal Ma’mur Asmani, 2003, Dialektika pesantren Dengan Tuntutan Zaman, cet. I, Yogyakarta: Qirtas, hal. 25

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s